Rabu, 28 November 2012

Arti Hadirmu


Kehadiran sosok yang sangat kita cintai menjadi suatu motivator untuk diri kita. Tapi tidak semua benar. Terkadang malah menjadi suatu keterpuruka untuk kita sendiri. Mungkin itu yang sednag aku alami. Aku (Sisi) menyadari arti hadir kekasihku Roy, setelah dia pergi meninggalkanku. Sifatku selama ini kepadanya membuat dia kesal dan memutuskan hubungan kami. Awalnya aku merasa mungkin memang ini yang terbaik untuk ku dan dia. Tapi lama-lama aku menyadari aku merasa kehilangannya, kehilangan sosok dia yang selalu ada disampingku saat aku sedih, saat aku senang. Kini sosok itu seakan hilang ditelan bumi. Hilang dan tidak akan pernah kembali.
                Ku melihat kembali lembaran-lembaran foto ku bersamanya. Mengenang masa kami bersama. Tak sadar tetes demi tetes air mata jatuh dari pipiku. Seakan tak rela melepas kenangan kami. “aku atau aku salah, aku tau aku yang tak pernah mengerti mu… aku minta maaf.. aku ingin kembali …” ungkapku mengiringi tangisku malam ini. Sosok Roy, kembali hadir dalam keseharianku, bukan sebagai kekasihku, melainkan sebagai teman satu smsterku. Rasanya aku ingin pergi jika aku harus bertemu dengannya dalam sedihku ini, aku tak akan sanggup menahan air mata ini. Tuhan… tolong kuatkan aku .. tolong jangan biarkan air mata ini kembali menetes dihadapannya.
                Kembali ku kuatkan hati untuk melihatnya bercanda ria bersama teman-teman wanitanya. “harusnya aku, aku yang ada disampingnya, bercanda bersamanya “ kataku dalam hati menahan air mata ini. Aku putuskan untuk pergi keluar kampus, agar aku dapat menyendiri menghilangkan rasa sesak saat melihat tingkah lakunya itu. “aku tau aku salah tapi kenapa.. kenapa kamu lakuin ini sama aku …” teriakku dalam tangis ku saat ini. Aku semakin larut dalam perasaan ini. Hingga aku tak sadar ada seseorang yang sedang memperhatikanku dari kejauhan.
                “hapus air matamu, pria seperti itu tidak pantas untuk kau tangisi” katanya sambil memberikan tissue padaku. “sejak kapan kamu disini ? “ tanyaku. “sejak kamu menangis tak karuan..” jawabnya seraya duduk disampingku. “kamu menangisi kesalahanmu ? untuk apa ? untuk dia ?” tanyanya lagi padaku. “apa urusanmu ?” jawabku ketus pada sosok itu. “urusanku ? aku tidak suka melihat wanita menangis hanya karena pria bodoh” jawabnya seraya berdiri. “kau tidak tau apa-apa tentang aku, “ kataku dengan nada tinggi. “terserah”, katanya sambil berlalu meninggalkanku.
                Astaga… mengapa aku bertemu dengan pria seperti dia ?? hanya menambah rasa kesalku saja saat ini. Aku memutuskan untuk pulang saja kerumah menenangkan sejenak pikirannku. Sesampainya dirumah aku menaruh tasku dan menjatuhkan tubuhku diatas tempat tidur dan bantal. Sejenak aku merenung dan dalam renunganku aku terlelap dalam tidurku yang membawaku kedunia mimpi.
                Mentari pagi menyapa hangat tubuhku. Free day untuk ku, aku memutuskan untuk pergi ke taman kembali, mencari hiburan diri. Sesampainya di taman aku kembali duduk dibangku itu. Tepat didepan danau. Rasanya semua beban hilang saat aku melihat tenangnya air danau. Rasanya aku terbawa hanyut dalam ketenangan air danau. “lagi lagi kau melamunkan pria itu ?” ucap sosok pria yang ada didepanku. Betapa terkejutnya aku melihat sosok itu yang tiba-tiba muncul. “ hei… sepertinya kamu tidak punya, pekerjaan lain selain mengganggu ku !!” kataku dengan nada tinggi. “tidak, aku memang ditakdirkan untuk selalu mengganggumu” jawabnya ketus padaku. “huh !! dasar kau cowo teraneh yang pernah aku temui !!”kataku sambil berlalu meninggalkannya.
                Dalam lamunku selama perjalanan pulang, aku membayangkan sosok itu. Sosok pria yang selalu ada disaat aku kembali terlarut dalam sedihku. “siapa sih cowo itu ? kenal juga ga !!” kata ku menggerutu dalam hati. Dasar cowo aneh, muncul tiba-tiba… Semakin lama aku semakin terfikirkan tentang jati diri laki-laki itu. Setiap hari aku pergi ke taman hanya untuk mengetahui apa dia kembali hadir. Dan memang tepat dugaanku, dia kembali hadir didekatku.
                Semakin hari aku semakin terbiasa akan hadirnya sosok itu. Dan semakin aku terbiasa lepas dari bayangan Roy, laki-laki yang telah membuatku sakit. Akhirnya aku kembali bersemangat. Setiap hari aku menghabiskan waktuku untuk pergi ke taman, menemui sosok pria itu. Yang sampai sekarang ia tidak pernah mau menyebutkan siapa namanya, atau dimana rumahnya. Ya tapi itu tidak menjadi masalah untukku.
                Kami semakin dekat, “cengeng” sapaan dia padaku, dan aku membalasnya dengan “mater (manusia teraneh)” hahahaha…. Kami semakin dekat dengan sapaan itu. Hari-hari yang aku lalui bersamanya semakin hangat dan semakin akrab setiap waktu.
Tapi, tidak dengan hari ini. Aku kembali pergi ke taman sepulang kuliah. Aku tidak menemui sosok miter ditaman. Aku menunggunya, menunggu sampai malam, tapi sosok itu tidak muncul sama sekali. Sedih, aku merasa ada yang hilang dalam diri ini. Aku merasa sepi, dan hampa tanpa keisengan miter hari ini. “kemana sih, cowo teraneh yang pernah aku temui itu ? kenapa hari ini dia tidak dating ke taman ?” kataku dalam hati seraya berjalan pulang.
Keesokan harinya aku kembali pergi ke taman dan berharap mater akan ketaman. Aneh tapi nyata, perasaan rindu muncul pada sosok pria pengganggu itu. Astaga, rasanya aneh.. mungkin karena kami sudah terbiasa bersama, akhirnya rasa ini muncul untuknya. “Mater.. dimana kamu ??” tanyaku dalam hati. Tiba – tiba sosok anak kecil membawa sebuah kotak berdiri dihadapannku. “kaka…” Tanya adik kecil itu. “ya sayang” jawabku. “kaka, aku mau kasih ini buat kaka” kata adik kecil itu menyodorkan kotak berwarna biru. “terimakasih sayang…” kataku menerima kotak itu.
Alangkah terkejutnya aku saat membuka kotak itu, ternyata kotak itu penuh dengan lembar-lembar foto ku. Semua keseharianku terekam dalam lembaran foto. Ada secarik surat dengan rasa penasaran aku membuka surat itu dan membacanya
Dear Sisi ( cengeng )
Aku tau kamu pasti menunggu ku ditaman, maaf karena aku tidak akan pernah bisa menemui mu lagi disana. Maaf karena aku harus meninggalkanmu. Jangan pernah kamu menangis lagi. Aku senang melihatmu tersenyum. Aku harus pergi, aku senang karena aku bisa membuatmu kembali tersenyum. Kembali melihat indahnya senyummu.
Aku harus jujur, aku sebenarnya Tomy, sahabat kecilmu. Maaf karna dulu aku meninggalkanmu sendiri, tapi saat aku kembali dan melihatmu menangis. Rasanya aku ingin mengembalikan senyumanmu itu lagi. Aku tak sanggup emlihatmu terus menangis. Hanya karena lelaki yang tak pantas untuk kau tangisi.
Semoga senyumanmu itu tak akan hilang dari wajahmu lagi. Wajah yang selalu terlihat ceria dan bahagia setiap harinya.
                                                                                                Salam hangat sahabatmu (Tomy)

Air mata jatuh membasahi pipi ini. Rasanya aku begitu bodoh tak mengenali sahabatku sendiri. Selama ini dia ada didekatku. Tapi aku mengganggapnya orang lain. Orang yang sangat aku rindukan selama belasan tahun. Aku tak sanggup untuk kehilangan dia lagi. Akupun berlari menuju rumah Tomy dan berharap dia masih tinggal dirumah yang sama.
Betapa terkejutnya aku, saat aku berada tepat didepan rumahnya. Hanya bendera kuning dan semua warga juga ibunda dari Tomy yang sedang menangis dihadapan tubuh lelaki yang terbujur kaku diselimuti kain putih. Seketika kotak berwarna biru itu jatuh dan aku berlari menghampiri kerumunan warga. Air mata jatuh tak tertahankan saat melihat Tomy yang telah tiada. Ibunda Tomy memelukku erat dan berkata “Tomy pergi dengan bahagia Karena sudah dapat melihatmu tersenyum”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar