Kehadiran sosok yang sangat kita
cintai menjadi suatu motivator untuk diri kita. Tapi tidak semua benar.
Terkadang malah menjadi suatu keterpuruka untuk kita sendiri. Mungkin itu yang
sednag aku alami. Aku (Sisi) menyadari arti hadir kekasihku Roy, setelah dia
pergi meninggalkanku. Sifatku selama ini kepadanya membuat dia kesal dan
memutuskan hubungan kami. Awalnya aku merasa mungkin memang ini yang terbaik
untuk ku dan dia. Tapi lama-lama aku menyadari aku merasa kehilangannya, kehilangan
sosok dia yang selalu ada disampingku saat aku sedih, saat aku senang. Kini
sosok itu seakan hilang ditelan bumi. Hilang dan tidak akan pernah kembali.
Ku
melihat kembali lembaran-lembaran foto ku bersamanya. Mengenang masa kami
bersama. Tak sadar tetes demi tetes air mata jatuh dari pipiku. Seakan tak rela
melepas kenangan kami. “aku atau aku salah, aku tau aku yang tak pernah
mengerti mu… aku minta maaf.. aku ingin kembali …” ungkapku mengiringi tangisku
malam ini. Sosok Roy, kembali hadir dalam keseharianku, bukan sebagai
kekasihku, melainkan sebagai teman satu smsterku. Rasanya aku ingin pergi jika
aku harus bertemu dengannya dalam sedihku ini, aku tak akan sanggup menahan air
mata ini. Tuhan… tolong kuatkan aku .. tolong jangan biarkan air mata ini
kembali menetes dihadapannya.
Kembali
ku kuatkan hati untuk melihatnya bercanda ria bersama teman-teman wanitanya.
“harusnya aku, aku yang ada disampingnya, bercanda bersamanya “ kataku dalam
hati menahan air mata ini. Aku putuskan untuk pergi keluar kampus, agar aku
dapat menyendiri menghilangkan rasa sesak saat melihat tingkah lakunya itu. “aku
tau aku salah tapi kenapa.. kenapa kamu lakuin ini sama aku …” teriakku dalam
tangis ku saat ini. Aku semakin larut dalam perasaan ini. Hingga aku tak sadar
ada seseorang yang sedang memperhatikanku dari kejauhan.
“hapus
air matamu, pria seperti itu tidak pantas untuk kau tangisi” katanya sambil
memberikan tissue padaku. “sejak kapan kamu disini ? “ tanyaku. “sejak kamu
menangis tak karuan..” jawabnya seraya duduk disampingku. “kamu menangisi
kesalahanmu ? untuk apa ? untuk dia ?” tanyanya lagi padaku. “apa urusanmu ?”
jawabku ketus pada sosok itu. “urusanku ? aku tidak suka melihat wanita
menangis hanya karena pria bodoh” jawabnya seraya berdiri. “kau tidak tau
apa-apa tentang aku, “ kataku dengan nada tinggi. “terserah”, katanya sambil
berlalu meninggalkanku.
Astaga…
mengapa aku bertemu dengan pria seperti dia ?? hanya menambah rasa kesalku saja
saat ini. Aku memutuskan untuk pulang saja kerumah menenangkan sejenak
pikirannku. Sesampainya dirumah aku menaruh tasku dan menjatuhkan tubuhku
diatas tempat tidur dan bantal. Sejenak aku merenung dan dalam renunganku aku
terlelap dalam tidurku yang membawaku kedunia mimpi.
Mentari
pagi menyapa hangat tubuhku. Free day untuk ku, aku memutuskan untuk pergi ke
taman kembali, mencari hiburan diri. Sesampainya di taman aku kembali duduk
dibangku itu. Tepat didepan danau. Rasanya semua beban hilang saat aku melihat
tenangnya air danau. Rasanya aku terbawa hanyut dalam ketenangan air danau.
“lagi lagi kau melamunkan pria itu ?” ucap sosok pria yang ada didepanku.
Betapa terkejutnya aku melihat sosok itu yang tiba-tiba muncul. “ hei…
sepertinya kamu tidak punya, pekerjaan lain selain mengganggu ku !!” kataku
dengan nada tinggi. “tidak, aku memang ditakdirkan untuk selalu mengganggumu”
jawabnya ketus padaku. “huh !! dasar kau cowo teraneh yang pernah aku temui
!!”kataku sambil berlalu meninggalkannya.
Dalam
lamunku selama perjalanan pulang, aku membayangkan sosok itu. Sosok pria yang
selalu ada disaat aku kembali terlarut dalam sedihku. “siapa sih cowo itu ?
kenal juga ga !!” kata ku menggerutu dalam hati. Dasar cowo aneh, muncul
tiba-tiba… Semakin lama aku semakin terfikirkan tentang jati diri laki-laki
itu. Setiap hari aku pergi ke taman hanya untuk mengetahui apa dia kembali
hadir. Dan memang tepat dugaanku, dia kembali hadir didekatku.
Semakin
hari aku semakin terbiasa akan hadirnya sosok itu. Dan semakin aku terbiasa
lepas dari bayangan Roy, laki-laki yang telah membuatku sakit. Akhirnya aku
kembali bersemangat. Setiap hari aku menghabiskan waktuku untuk pergi ke taman,
menemui sosok pria itu. Yang sampai sekarang ia tidak pernah mau menyebutkan
siapa namanya, atau dimana rumahnya. Ya tapi itu tidak menjadi masalah untukku.
Kami
semakin dekat, “cengeng” sapaan dia padaku, dan aku membalasnya dengan “mater
(manusia teraneh)” hahahaha…. Kami semakin dekat dengan sapaan itu. Hari-hari
yang aku lalui bersamanya semakin hangat dan semakin akrab setiap waktu.
Tapi, tidak
dengan hari ini. Aku kembali pergi ke taman sepulang kuliah. Aku tidak menemui
sosok miter ditaman. Aku menunggunya, menunggu sampai malam, tapi sosok itu
tidak muncul sama sekali. Sedih, aku merasa ada yang hilang dalam diri ini. Aku
merasa sepi, dan hampa tanpa keisengan miter hari ini. “kemana sih, cowo
teraneh yang pernah aku temui itu ? kenapa hari ini dia tidak dating ke taman
?” kataku dalam hati seraya berjalan pulang.
Keesokan harinya
aku kembali pergi ke taman dan berharap mater akan ketaman. Aneh tapi nyata,
perasaan rindu muncul pada sosok pria pengganggu itu. Astaga, rasanya aneh..
mungkin karena kami sudah terbiasa bersama, akhirnya rasa ini muncul untuknya.
“Mater.. dimana kamu ??” tanyaku dalam hati. Tiba – tiba sosok anak kecil
membawa sebuah kotak berdiri dihadapannku. “kaka…” Tanya adik kecil itu. “ya
sayang” jawabku. “kaka, aku mau kasih ini buat kaka” kata adik kecil itu
menyodorkan kotak berwarna biru. “terimakasih sayang…” kataku menerima kotak
itu.
Alangkah
terkejutnya aku saat membuka kotak itu, ternyata kotak itu penuh dengan
lembar-lembar foto ku. Semua keseharianku terekam dalam lembaran foto. Ada
secarik surat dengan rasa penasaran aku membuka surat itu dan membacanya
Dear Sisi (
cengeng )
Aku tau kamu
pasti menunggu ku ditaman, maaf karena aku tidak akan pernah bisa menemui mu
lagi disana. Maaf karena aku harus meninggalkanmu. Jangan pernah kamu menangis
lagi. Aku senang melihatmu tersenyum. Aku harus pergi, aku senang karena aku
bisa membuatmu kembali tersenyum. Kembali melihat indahnya senyummu.
Aku harus jujur,
aku sebenarnya Tomy, sahabat kecilmu. Maaf karna dulu aku meninggalkanmu
sendiri, tapi saat aku kembali dan melihatmu menangis. Rasanya aku ingin
mengembalikan senyumanmu itu lagi. Aku tak sanggup emlihatmu terus menangis. Hanya
karena lelaki yang tak pantas untuk kau tangisi.
Semoga
senyumanmu itu tak akan hilang dari wajahmu lagi. Wajah yang selalu terlihat
ceria dan bahagia setiap harinya.
Salam
hangat sahabatmu (Tomy)
Air mata jatuh
membasahi pipi ini. Rasanya aku begitu bodoh tak mengenali sahabatku sendiri.
Selama ini dia ada didekatku. Tapi aku mengganggapnya orang lain. Orang yang
sangat aku rindukan selama belasan tahun. Aku tak sanggup untuk kehilangan dia
lagi. Akupun berlari menuju rumah Tomy dan berharap dia masih tinggal dirumah
yang sama.
Betapa
terkejutnya aku, saat aku berada tepat didepan rumahnya. Hanya bendera kuning
dan semua warga juga ibunda dari Tomy yang sedang menangis dihadapan tubuh
lelaki yang terbujur kaku diselimuti kain putih. Seketika kotak berwarna biru
itu jatuh dan aku berlari menghampiri kerumunan warga. Air mata jatuh tak
tertahankan saat melihat Tomy yang telah tiada. Ibunda Tomy memelukku erat dan
berkata “Tomy pergi dengan bahagia Karena sudah dapat melihatmu tersenyum”.
