Sabtu, 01 Desember 2012

Terpaut dalam Fotografi

Lembar demi lembar foto - foto kuletakkan diatas meja kerjaku. Inilah keseharianku, memilah foto - foto yang akan dimuat dalam majalah tempatku bekerja saat ini.Aku sangat menyukai pekerjaanku saat ini, karna aku menyukai dunia fotografi.Aku Tiara, usiaku kini 23 tahun. Memang masih tergolong mudadengan jenjang karirku saat ini. Tapi, inilah aku, aku menikmati semuanya.

Hari demi hari aku lalui dengan mengapresiasikan karya - karya terbaik dari para fotografer di majalahku bekerja. " Bu, ini beberapa foto yang sudah diserahkan fotografer ke kantor", kata sekertarisku. " yasudah, taro saja file-filenya di situ nanti saya cek " kataku sambil terus melihat foto-foto yang sebelumnya sudah ada di meja. Rasanya semakin hari semakin aku jenuh dengan karya para fotografer, tidak ada karya baru setiap harinya. Hanya 2 atau 3 saja yang menurutku baik. Aku terfikirkan untuk kembali merekrut fotografer baru untuk memberi warna baru di majalah ini.

Satu per satu CV para pelamar aku baca, dan hasil - hasilnya aku perhatikan. Mataku tertuju pada satu CV yang bertuliskan "Arif", astaga... hasil karyanya mengingatkanku pada seseorang. Hasil fotonya sangat lembut, halus, dan bernuansa. Aku memutuskan untuk melakukan wawancara dengannya.

Keesokan harinya. Tok.. tok... tok.. ketukan pintu ruang kerjaku. "Ya, silahkan masuk" kataku langsung menatap ke arah pintu. "Permisi...." kata sosok pria tinggi tegap, berkulit putih dengan kamera D-SLR tergantung di lehernya. Alangkah terkejutnya aku ketika melihat sosok itu. Benar saja, ternyata dia adalah seniorku semasa Kuliah. "Abang Arif ??? " kataku dengan wajah yang heran. Pria itu hanya terdiam seakan mengingat sesuatu. " Abang, aku Tiara.. junior abang dikampus dulu " kataku dengan wajah antusias. "ooh.. ia.. saya ingat" katanya sambil tersenyum. "Abang apa kabar ? " katamu sambil menjabat tangannya. "Alhamdullilah.... baik", katanya menjabat tanganku.

Kami asik berbincang, dari mengenang masa kuliah, sampai bercerita tentang pekerjaan kami. Akhirnya aku memutuskan untuk menerima Abang Arif bekerja di majalahku. Ya, bukan karena dia seniorku, melainkan karna hasil karyanya memang sangat baik. Hari - hari yang aku lalui setelah melihat karya-karya baru ini sangat membuat ku bersemangat kembali. Selama aku bekerja di majalah ini, aku hanya menghabiskan waktu untuk melihat dan memilih foto-foto yang telah diserahkan para fotografer, tapi kali ini berbeda. Aku kembali ingin mengambil gambar. Kembali mengapresiasikan diri dalam dunia fotografi.

Setahun sudah berlalu, Abang Arif yang selau mendampingi aku selama hunting foto. Tapi kali ini lain, Abang Arif harus dipindahkan ke daerah Jogja untuk memberikan pelatihan Fotografi di sana. Sebelum ia pergi, ia memberikan satu kotak berwarna biru. Saat aku membukanya, alangkah terkejutnya aku, kotak itu berisi foto-foto aku, kegiatan ku, dan keseharianku.

"Terimakasih Abang....Aku akan selalu menyimpan kenangan ini sebagai motivasiku ...." 

Rabu, 28 November 2012

Arti Hadirmu


Kehadiran sosok yang sangat kita cintai menjadi suatu motivator untuk diri kita. Tapi tidak semua benar. Terkadang malah menjadi suatu keterpuruka untuk kita sendiri. Mungkin itu yang sednag aku alami. Aku (Sisi) menyadari arti hadir kekasihku Roy, setelah dia pergi meninggalkanku. Sifatku selama ini kepadanya membuat dia kesal dan memutuskan hubungan kami. Awalnya aku merasa mungkin memang ini yang terbaik untuk ku dan dia. Tapi lama-lama aku menyadari aku merasa kehilangannya, kehilangan sosok dia yang selalu ada disampingku saat aku sedih, saat aku senang. Kini sosok itu seakan hilang ditelan bumi. Hilang dan tidak akan pernah kembali.
                Ku melihat kembali lembaran-lembaran foto ku bersamanya. Mengenang masa kami bersama. Tak sadar tetes demi tetes air mata jatuh dari pipiku. Seakan tak rela melepas kenangan kami. “aku atau aku salah, aku tau aku yang tak pernah mengerti mu… aku minta maaf.. aku ingin kembali …” ungkapku mengiringi tangisku malam ini. Sosok Roy, kembali hadir dalam keseharianku, bukan sebagai kekasihku, melainkan sebagai teman satu smsterku. Rasanya aku ingin pergi jika aku harus bertemu dengannya dalam sedihku ini, aku tak akan sanggup menahan air mata ini. Tuhan… tolong kuatkan aku .. tolong jangan biarkan air mata ini kembali menetes dihadapannya.
                Kembali ku kuatkan hati untuk melihatnya bercanda ria bersama teman-teman wanitanya. “harusnya aku, aku yang ada disampingnya, bercanda bersamanya “ kataku dalam hati menahan air mata ini. Aku putuskan untuk pergi keluar kampus, agar aku dapat menyendiri menghilangkan rasa sesak saat melihat tingkah lakunya itu. “aku tau aku salah tapi kenapa.. kenapa kamu lakuin ini sama aku …” teriakku dalam tangis ku saat ini. Aku semakin larut dalam perasaan ini. Hingga aku tak sadar ada seseorang yang sedang memperhatikanku dari kejauhan.
                “hapus air matamu, pria seperti itu tidak pantas untuk kau tangisi” katanya sambil memberikan tissue padaku. “sejak kapan kamu disini ? “ tanyaku. “sejak kamu menangis tak karuan..” jawabnya seraya duduk disampingku. “kamu menangisi kesalahanmu ? untuk apa ? untuk dia ?” tanyanya lagi padaku. “apa urusanmu ?” jawabku ketus pada sosok itu. “urusanku ? aku tidak suka melihat wanita menangis hanya karena pria bodoh” jawabnya seraya berdiri. “kau tidak tau apa-apa tentang aku, “ kataku dengan nada tinggi. “terserah”, katanya sambil berlalu meninggalkanku.
                Astaga… mengapa aku bertemu dengan pria seperti dia ?? hanya menambah rasa kesalku saja saat ini. Aku memutuskan untuk pulang saja kerumah menenangkan sejenak pikirannku. Sesampainya dirumah aku menaruh tasku dan menjatuhkan tubuhku diatas tempat tidur dan bantal. Sejenak aku merenung dan dalam renunganku aku terlelap dalam tidurku yang membawaku kedunia mimpi.
                Mentari pagi menyapa hangat tubuhku. Free day untuk ku, aku memutuskan untuk pergi ke taman kembali, mencari hiburan diri. Sesampainya di taman aku kembali duduk dibangku itu. Tepat didepan danau. Rasanya semua beban hilang saat aku melihat tenangnya air danau. Rasanya aku terbawa hanyut dalam ketenangan air danau. “lagi lagi kau melamunkan pria itu ?” ucap sosok pria yang ada didepanku. Betapa terkejutnya aku melihat sosok itu yang tiba-tiba muncul. “ hei… sepertinya kamu tidak punya, pekerjaan lain selain mengganggu ku !!” kataku dengan nada tinggi. “tidak, aku memang ditakdirkan untuk selalu mengganggumu” jawabnya ketus padaku. “huh !! dasar kau cowo teraneh yang pernah aku temui !!”kataku sambil berlalu meninggalkannya.
                Dalam lamunku selama perjalanan pulang, aku membayangkan sosok itu. Sosok pria yang selalu ada disaat aku kembali terlarut dalam sedihku. “siapa sih cowo itu ? kenal juga ga !!” kata ku menggerutu dalam hati. Dasar cowo aneh, muncul tiba-tiba… Semakin lama aku semakin terfikirkan tentang jati diri laki-laki itu. Setiap hari aku pergi ke taman hanya untuk mengetahui apa dia kembali hadir. Dan memang tepat dugaanku, dia kembali hadir didekatku.
                Semakin hari aku semakin terbiasa akan hadirnya sosok itu. Dan semakin aku terbiasa lepas dari bayangan Roy, laki-laki yang telah membuatku sakit. Akhirnya aku kembali bersemangat. Setiap hari aku menghabiskan waktuku untuk pergi ke taman, menemui sosok pria itu. Yang sampai sekarang ia tidak pernah mau menyebutkan siapa namanya, atau dimana rumahnya. Ya tapi itu tidak menjadi masalah untukku.
                Kami semakin dekat, “cengeng” sapaan dia padaku, dan aku membalasnya dengan “mater (manusia teraneh)” hahahaha…. Kami semakin dekat dengan sapaan itu. Hari-hari yang aku lalui bersamanya semakin hangat dan semakin akrab setiap waktu.
Tapi, tidak dengan hari ini. Aku kembali pergi ke taman sepulang kuliah. Aku tidak menemui sosok miter ditaman. Aku menunggunya, menunggu sampai malam, tapi sosok itu tidak muncul sama sekali. Sedih, aku merasa ada yang hilang dalam diri ini. Aku merasa sepi, dan hampa tanpa keisengan miter hari ini. “kemana sih, cowo teraneh yang pernah aku temui itu ? kenapa hari ini dia tidak dating ke taman ?” kataku dalam hati seraya berjalan pulang.
Keesokan harinya aku kembali pergi ke taman dan berharap mater akan ketaman. Aneh tapi nyata, perasaan rindu muncul pada sosok pria pengganggu itu. Astaga, rasanya aneh.. mungkin karena kami sudah terbiasa bersama, akhirnya rasa ini muncul untuknya. “Mater.. dimana kamu ??” tanyaku dalam hati. Tiba – tiba sosok anak kecil membawa sebuah kotak berdiri dihadapannku. “kaka…” Tanya adik kecil itu. “ya sayang” jawabku. “kaka, aku mau kasih ini buat kaka” kata adik kecil itu menyodorkan kotak berwarna biru. “terimakasih sayang…” kataku menerima kotak itu.
Alangkah terkejutnya aku saat membuka kotak itu, ternyata kotak itu penuh dengan lembar-lembar foto ku. Semua keseharianku terekam dalam lembaran foto. Ada secarik surat dengan rasa penasaran aku membuka surat itu dan membacanya
Dear Sisi ( cengeng )
Aku tau kamu pasti menunggu ku ditaman, maaf karena aku tidak akan pernah bisa menemui mu lagi disana. Maaf karena aku harus meninggalkanmu. Jangan pernah kamu menangis lagi. Aku senang melihatmu tersenyum. Aku harus pergi, aku senang karena aku bisa membuatmu kembali tersenyum. Kembali melihat indahnya senyummu.
Aku harus jujur, aku sebenarnya Tomy, sahabat kecilmu. Maaf karna dulu aku meninggalkanmu sendiri, tapi saat aku kembali dan melihatmu menangis. Rasanya aku ingin mengembalikan senyumanmu itu lagi. Aku tak sanggup emlihatmu terus menangis. Hanya karena lelaki yang tak pantas untuk kau tangisi.
Semoga senyumanmu itu tak akan hilang dari wajahmu lagi. Wajah yang selalu terlihat ceria dan bahagia setiap harinya.
                                                                                                Salam hangat sahabatmu (Tomy)

Air mata jatuh membasahi pipi ini. Rasanya aku begitu bodoh tak mengenali sahabatku sendiri. Selama ini dia ada didekatku. Tapi aku mengganggapnya orang lain. Orang yang sangat aku rindukan selama belasan tahun. Aku tak sanggup untuk kehilangan dia lagi. Akupun berlari menuju rumah Tomy dan berharap dia masih tinggal dirumah yang sama.
Betapa terkejutnya aku, saat aku berada tepat didepan rumahnya. Hanya bendera kuning dan semua warga juga ibunda dari Tomy yang sedang menangis dihadapan tubuh lelaki yang terbujur kaku diselimuti kain putih. Seketika kotak berwarna biru itu jatuh dan aku berlari menghampiri kerumunan warga. Air mata jatuh tak tertahankan saat melihat Tomy yang telah tiada. Ibunda Tomy memelukku erat dan berkata “Tomy pergi dengan bahagia Karena sudah dapat melihatmu tersenyum”.

Seribu Tanya Dalam Hati


Manusia memang menyimpan seribu Tanya dalam hatinya. Meskipun terkadang pertanyaan-pertanyaan terlontar secara sadar dari mulut manusia itu sendiri. Tetapi lebih banyak pertanyaan yang tersimpan di dalam benak seorang manusia. Ya memang itulah sifat manusia. Mereka lebih banyak memilih untuk menyimpan pertanyaan-pertanyaan dalam benak daripada untuk melontarkan pertanyaannya. Mungkin memang sulit untuk mengungkapkan suatu pertanyaan yang sangat privasi dalam diri manusia itu sendiri. Misalnya tentang “ siapa aku ?”, “mengapa aku begini ?”, “apa yang harus aku lakukan ?”, “apa arti aku ?”, dan masih banyak lagi pertanyaan yang jarang kita lontarkan.
                Begitupun aku, chaira…. Aku yang selalu menyimpan seribu Tanya dalam hatiku tanpa mengungkapkannya kepada siapapun. Aku lebih memilih untuk diam atau hanya menuliskan sesuatu dalam secarik kertas atau hanya dalam benakku saja. Aku tidak pernah berani untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya akan mempengaruhi pikiranku sendiri. “ Mengapa orang lebih memilih untuk hidup bersama orang yang dia cintai ? daripada hidup dengan orang yang mencintainya ?” pertanyaan baru kembali muncul dalam benakku saat melihat kedua temanku yang sedang dimabuk asmara. “aku ingin dicintai, apa aku tak pantas untuk dicintai ?” lagi-lagi muncul pertanyaan seperti itu saat aku melihat semua pasangan kekasih yang sedang bercanda ria di taman.
                Rasanya aku sudah malas untuk keluar rumah. Semakin keluar rumah, semakin banyak saja pertanyaan-pertanyaan yang tersimpat di dalam hati ini. Setiap hari aku selalu pergi ke taman dekat rumahku untuk menikmati sore dan mencari inspirasi tentang tulisan-tulisanku. Hari ini muncul pertanyaan baru lg dalam benakku “apakah aku ditakdirkan untuk sendiri ? “, sial… kali ini pertanyaan ini membuat aku bingung. Kenapa pertanyaan ini muncul tiba-tiba saat aku melihat sosok pria yang sedang mengambil foto bunga di taman. “siapa dia ?”hanya pertanyaan itu yang muncul setelah aku memperhatikan pria dengan tinggi 160 cm, dan berkulit putih itu.” Astaga…. Mengapa ?? apa ini ??” kembali ada Tanya dalam hati ini tentang perasaan ku saat ini.
                Siang berganti malam, aku pun pulang ke rumah dengan seribu Tanya baru dalam benakku, “siapa dia ?” ,“sedang apa dia disana ?”, “mengapa aku merasa ada yang aneh saat melihat dia?”. Astaga… ada apa dengan diriku. Aku kembali membuka leptopku, dan meneruskan tulisan-tulisanku. Entah mengapa tiba-tiba aku menulis kata “CINTA”. Astaga….. “apa aku jatuh cinta ??”pertanyaan teraneh yang pernah terbayang dalam benakku. Astaga…. Akhirnya semakin banyak saja pertanyaan ini muncul dalam benakku…..

Jumat, 23 November 2012

Diary Raya ( terimakasih cinta )

Rasa penat dalam menjalani aktifitas ku sebagai seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta, rasanya terbayar sudah dengan perjalanan ku hari ini. Kami seluruh mahasiswa memutuskan untuk pergi ke suatu daerah melepaskan penat sekaligus mengadakan suatu kegiatan. Saat aku memasuki bus yang akan membawa kami ke tempat tujuan disebelahku duduk sosok pria yang sangat aku cintai.Ryan, dia adalah sosok pria yang slama ini selalu mengisi ruang dihatiku. Selama perjalanan kami terus bercanda, dan membicarakan apapun yang ada di pikiran kami berdua. Rasanya ingin ku hentikan waktu agar aku bisa terus bersamanya seperti ini. Ya karena memang kesibukannya yang membuat kami jarang bertemu seperti biasanya. Tidak terasa, ternyata kami telah sampai di tempat tujuan kami. Huh !! aku menyesal mengapa rasanya begitu cepat kami sampai. 

Karena aku dan Fina adalah koordinator dalam kegiatan ini, maka aku dan Ryan harus berpisah sejenak. Setelah itu, kamipun menyantap makan siang bersama. Dan akhirnya aku dan Ryan dapat menikmati makan siang kami berdua. Rasanya seperti mimpi, bisa duduk disampingnya dan melihat senyumnya lagi. Kami mengadakan suatu kegiatan, dan selama kegiatan itu kami terus bersama. Tertawa, bahkan saling meledek sudah menjadi kebiasaan kami berdua. Rindu... aku rindu saat saat ini, karena aku tau mungkin kita akan jarang untuk bercanda dan menghabiskan waktu berdua. Rasa lelah atau apapun tidak terasa saat bersamamu. 

Acara kegiatan kami sudah usai. Kami semua kembali ke bus untuk pulang ke daerah kami kembali. Kembali sosok Ryan duduk disampingku. AC mobil bus yang sangat kencang,membuatku merasa kedinginan. Ryan yang melihatku kedinginan membuka kemejanya lalu menyelimuti tubuhku dengan kemejanya itu. Aku tau diapun kedinginan, tapi dia rela untuk melepaskan kemejanya hanya karena tak ingin melihatku kedinginan. Betapa lelahnya aku, hingga aku tertidur di pundak Ryan. Rasanya nyaman dan hangat berada di peluknya saat itu. Lagi dan lagi pikiranku kembali mengharapkan waktu terhenti disini. Saat aku ada disisinya, saat aku ada dipeluknya yang sangat ku rindukan. 

Terlelap ku dalam tidurku, hingga tak sadar kami sudah sampai ke tujuan, tepatnya kampus kami. Ryanpun membangunkan aku yang tertidur pulas di pundaknya. Saat kami sampai, aku mengembalikan kemejanya itu. Tapi, lagi lagi dia rela untuk memberikan jaketnya untukku agar aku tidak kedinginan malam itu. Rasanya aku bahagia memiliki dia disampingku. Sangat sangat bahagia bersamamu. Terimakasih Ryan......