Lembar demi lembar foto - foto kuletakkan diatas meja kerjaku. Inilah keseharianku, memilah foto - foto yang akan dimuat dalam majalah tempatku bekerja saat ini.Aku sangat menyukai pekerjaanku saat ini, karna aku menyukai dunia fotografi.Aku Tiara, usiaku kini 23 tahun. Memang masih tergolong mudadengan jenjang karirku saat ini. Tapi, inilah aku, aku menikmati semuanya.
Hari demi hari aku lalui dengan mengapresiasikan karya - karya terbaik dari para fotografer di majalahku bekerja. " Bu, ini beberapa foto yang sudah diserahkan fotografer ke kantor", kata sekertarisku. " yasudah, taro saja file-filenya di situ nanti saya cek " kataku sambil terus melihat foto-foto yang sebelumnya sudah ada di meja. Rasanya semakin hari semakin aku jenuh dengan karya para fotografer, tidak ada karya baru setiap harinya. Hanya 2 atau 3 saja yang menurutku baik. Aku terfikirkan untuk kembali merekrut fotografer baru untuk memberi warna baru di majalah ini.
Satu per satu CV para pelamar aku baca, dan hasil - hasilnya aku perhatikan. Mataku tertuju pada satu CV yang bertuliskan "Arif", astaga... hasil karyanya mengingatkanku pada seseorang. Hasil fotonya sangat lembut, halus, dan bernuansa. Aku memutuskan untuk melakukan wawancara dengannya.
Keesokan harinya. Tok.. tok... tok.. ketukan pintu ruang kerjaku. "Ya, silahkan masuk" kataku langsung menatap ke arah pintu. "Permisi...." kata sosok pria tinggi tegap, berkulit putih dengan kamera D-SLR tergantung di lehernya. Alangkah terkejutnya aku ketika melihat sosok itu. Benar saja, ternyata dia adalah seniorku semasa Kuliah. "Abang Arif ??? " kataku dengan wajah yang heran. Pria itu hanya terdiam seakan mengingat sesuatu. " Abang, aku Tiara.. junior abang dikampus dulu " kataku dengan wajah antusias. "ooh.. ia.. saya ingat" katanya sambil tersenyum. "Abang apa kabar ? " katamu sambil menjabat tangannya. "Alhamdullilah.... baik", katanya menjabat tanganku.
Kami asik berbincang, dari mengenang masa kuliah, sampai bercerita tentang pekerjaan kami. Akhirnya aku memutuskan untuk menerima Abang Arif bekerja di majalahku. Ya, bukan karena dia seniorku, melainkan karna hasil karyanya memang sangat baik. Hari - hari yang aku lalui setelah melihat karya-karya baru ini sangat membuat ku bersemangat kembali. Selama aku bekerja di majalah ini, aku hanya menghabiskan waktu untuk melihat dan memilih foto-foto yang telah diserahkan para fotografer, tapi kali ini berbeda. Aku kembali ingin mengambil gambar. Kembali mengapresiasikan diri dalam dunia fotografi.
Setahun sudah berlalu, Abang Arif yang selau mendampingi aku selama hunting foto. Tapi kali ini lain, Abang Arif harus dipindahkan ke daerah Jogja untuk memberikan pelatihan Fotografi di sana. Sebelum ia pergi, ia memberikan satu kotak berwarna biru. Saat aku membukanya, alangkah terkejutnya aku, kotak itu berisi foto-foto aku, kegiatan ku, dan keseharianku.
"Terimakasih Abang....Aku akan selalu menyimpan kenangan ini sebagai motivasiku ...."
Sabtu, 01 Desember 2012
Rabu, 28 November 2012
Arti Hadirmu
Kehadiran sosok yang sangat kita
cintai menjadi suatu motivator untuk diri kita. Tapi tidak semua benar.
Terkadang malah menjadi suatu keterpuruka untuk kita sendiri. Mungkin itu yang
sednag aku alami. Aku (Sisi) menyadari arti hadir kekasihku Roy, setelah dia
pergi meninggalkanku. Sifatku selama ini kepadanya membuat dia kesal dan
memutuskan hubungan kami. Awalnya aku merasa mungkin memang ini yang terbaik
untuk ku dan dia. Tapi lama-lama aku menyadari aku merasa kehilangannya, kehilangan
sosok dia yang selalu ada disampingku saat aku sedih, saat aku senang. Kini
sosok itu seakan hilang ditelan bumi. Hilang dan tidak akan pernah kembali.
Ku
melihat kembali lembaran-lembaran foto ku bersamanya. Mengenang masa kami
bersama. Tak sadar tetes demi tetes air mata jatuh dari pipiku. Seakan tak rela
melepas kenangan kami. “aku atau aku salah, aku tau aku yang tak pernah
mengerti mu… aku minta maaf.. aku ingin kembali …” ungkapku mengiringi tangisku
malam ini. Sosok Roy, kembali hadir dalam keseharianku, bukan sebagai
kekasihku, melainkan sebagai teman satu smsterku. Rasanya aku ingin pergi jika
aku harus bertemu dengannya dalam sedihku ini, aku tak akan sanggup menahan air
mata ini. Tuhan… tolong kuatkan aku .. tolong jangan biarkan air mata ini
kembali menetes dihadapannya.
Kembali
ku kuatkan hati untuk melihatnya bercanda ria bersama teman-teman wanitanya.
“harusnya aku, aku yang ada disampingnya, bercanda bersamanya “ kataku dalam
hati menahan air mata ini. Aku putuskan untuk pergi keluar kampus, agar aku
dapat menyendiri menghilangkan rasa sesak saat melihat tingkah lakunya itu. “aku
tau aku salah tapi kenapa.. kenapa kamu lakuin ini sama aku …” teriakku dalam
tangis ku saat ini. Aku semakin larut dalam perasaan ini. Hingga aku tak sadar
ada seseorang yang sedang memperhatikanku dari kejauhan.
“hapus
air matamu, pria seperti itu tidak pantas untuk kau tangisi” katanya sambil
memberikan tissue padaku. “sejak kapan kamu disini ? “ tanyaku. “sejak kamu
menangis tak karuan..” jawabnya seraya duduk disampingku. “kamu menangisi
kesalahanmu ? untuk apa ? untuk dia ?” tanyanya lagi padaku. “apa urusanmu ?”
jawabku ketus pada sosok itu. “urusanku ? aku tidak suka melihat wanita
menangis hanya karena pria bodoh” jawabnya seraya berdiri. “kau tidak tau
apa-apa tentang aku, “ kataku dengan nada tinggi. “terserah”, katanya sambil
berlalu meninggalkanku.
Astaga…
mengapa aku bertemu dengan pria seperti dia ?? hanya menambah rasa kesalku saja
saat ini. Aku memutuskan untuk pulang saja kerumah menenangkan sejenak
pikirannku. Sesampainya dirumah aku menaruh tasku dan menjatuhkan tubuhku
diatas tempat tidur dan bantal. Sejenak aku merenung dan dalam renunganku aku
terlelap dalam tidurku yang membawaku kedunia mimpi.
Mentari
pagi menyapa hangat tubuhku. Free day untuk ku, aku memutuskan untuk pergi ke
taman kembali, mencari hiburan diri. Sesampainya di taman aku kembali duduk
dibangku itu. Tepat didepan danau. Rasanya semua beban hilang saat aku melihat
tenangnya air danau. Rasanya aku terbawa hanyut dalam ketenangan air danau.
“lagi lagi kau melamunkan pria itu ?” ucap sosok pria yang ada didepanku.
Betapa terkejutnya aku melihat sosok itu yang tiba-tiba muncul. “ hei…
sepertinya kamu tidak punya, pekerjaan lain selain mengganggu ku !!” kataku
dengan nada tinggi. “tidak, aku memang ditakdirkan untuk selalu mengganggumu”
jawabnya ketus padaku. “huh !! dasar kau cowo teraneh yang pernah aku temui
!!”kataku sambil berlalu meninggalkannya.
Dalam
lamunku selama perjalanan pulang, aku membayangkan sosok itu. Sosok pria yang
selalu ada disaat aku kembali terlarut dalam sedihku. “siapa sih cowo itu ?
kenal juga ga !!” kata ku menggerutu dalam hati. Dasar cowo aneh, muncul
tiba-tiba… Semakin lama aku semakin terfikirkan tentang jati diri laki-laki
itu. Setiap hari aku pergi ke taman hanya untuk mengetahui apa dia kembali
hadir. Dan memang tepat dugaanku, dia kembali hadir didekatku.
Semakin
hari aku semakin terbiasa akan hadirnya sosok itu. Dan semakin aku terbiasa
lepas dari bayangan Roy, laki-laki yang telah membuatku sakit. Akhirnya aku
kembali bersemangat. Setiap hari aku menghabiskan waktuku untuk pergi ke taman,
menemui sosok pria itu. Yang sampai sekarang ia tidak pernah mau menyebutkan
siapa namanya, atau dimana rumahnya. Ya tapi itu tidak menjadi masalah untukku.
Kami
semakin dekat, “cengeng” sapaan dia padaku, dan aku membalasnya dengan “mater
(manusia teraneh)” hahahaha…. Kami semakin dekat dengan sapaan itu. Hari-hari
yang aku lalui bersamanya semakin hangat dan semakin akrab setiap waktu.
Tapi, tidak
dengan hari ini. Aku kembali pergi ke taman sepulang kuliah. Aku tidak menemui
sosok miter ditaman. Aku menunggunya, menunggu sampai malam, tapi sosok itu
tidak muncul sama sekali. Sedih, aku merasa ada yang hilang dalam diri ini. Aku
merasa sepi, dan hampa tanpa keisengan miter hari ini. “kemana sih, cowo
teraneh yang pernah aku temui itu ? kenapa hari ini dia tidak dating ke taman
?” kataku dalam hati seraya berjalan pulang.
Keesokan harinya
aku kembali pergi ke taman dan berharap mater akan ketaman. Aneh tapi nyata,
perasaan rindu muncul pada sosok pria pengganggu itu. Astaga, rasanya aneh..
mungkin karena kami sudah terbiasa bersama, akhirnya rasa ini muncul untuknya.
“Mater.. dimana kamu ??” tanyaku dalam hati. Tiba – tiba sosok anak kecil
membawa sebuah kotak berdiri dihadapannku. “kaka…” Tanya adik kecil itu. “ya
sayang” jawabku. “kaka, aku mau kasih ini buat kaka” kata adik kecil itu
menyodorkan kotak berwarna biru. “terimakasih sayang…” kataku menerima kotak
itu.
Alangkah
terkejutnya aku saat membuka kotak itu, ternyata kotak itu penuh dengan
lembar-lembar foto ku. Semua keseharianku terekam dalam lembaran foto. Ada
secarik surat dengan rasa penasaran aku membuka surat itu dan membacanya
Dear Sisi (
cengeng )
Aku tau kamu
pasti menunggu ku ditaman, maaf karena aku tidak akan pernah bisa menemui mu
lagi disana. Maaf karena aku harus meninggalkanmu. Jangan pernah kamu menangis
lagi. Aku senang melihatmu tersenyum. Aku harus pergi, aku senang karena aku
bisa membuatmu kembali tersenyum. Kembali melihat indahnya senyummu.
Aku harus jujur,
aku sebenarnya Tomy, sahabat kecilmu. Maaf karna dulu aku meninggalkanmu
sendiri, tapi saat aku kembali dan melihatmu menangis. Rasanya aku ingin
mengembalikan senyumanmu itu lagi. Aku tak sanggup emlihatmu terus menangis. Hanya
karena lelaki yang tak pantas untuk kau tangisi.
Semoga
senyumanmu itu tak akan hilang dari wajahmu lagi. Wajah yang selalu terlihat
ceria dan bahagia setiap harinya.
Salam
hangat sahabatmu (Tomy)
Air mata jatuh
membasahi pipi ini. Rasanya aku begitu bodoh tak mengenali sahabatku sendiri.
Selama ini dia ada didekatku. Tapi aku mengganggapnya orang lain. Orang yang
sangat aku rindukan selama belasan tahun. Aku tak sanggup untuk kehilangan dia
lagi. Akupun berlari menuju rumah Tomy dan berharap dia masih tinggal dirumah
yang sama.
Betapa
terkejutnya aku, saat aku berada tepat didepan rumahnya. Hanya bendera kuning
dan semua warga juga ibunda dari Tomy yang sedang menangis dihadapan tubuh
lelaki yang terbujur kaku diselimuti kain putih. Seketika kotak berwarna biru
itu jatuh dan aku berlari menghampiri kerumunan warga. Air mata jatuh tak
tertahankan saat melihat Tomy yang telah tiada. Ibunda Tomy memelukku erat dan
berkata “Tomy pergi dengan bahagia Karena sudah dapat melihatmu tersenyum”.
Seribu Tanya Dalam Hati
Manusia memang menyimpan seribu
Tanya dalam hatinya. Meskipun terkadang pertanyaan-pertanyaan terlontar secara
sadar dari mulut manusia itu sendiri. Tetapi lebih banyak pertanyaan yang
tersimpan di dalam benak seorang manusia. Ya memang itulah sifat manusia.
Mereka lebih banyak memilih untuk menyimpan pertanyaan-pertanyaan dalam benak
daripada untuk melontarkan pertanyaannya. Mungkin memang sulit untuk
mengungkapkan suatu pertanyaan yang sangat privasi dalam diri manusia itu sendiri.
Misalnya tentang “ siapa aku ?”, “mengapa aku begini ?”, “apa yang harus aku
lakukan ?”, “apa arti aku ?”, dan masih banyak lagi pertanyaan yang jarang kita
lontarkan.
Begitupun
aku, chaira…. Aku yang selalu menyimpan seribu Tanya dalam hatiku tanpa mengungkapkannya
kepada siapapun. Aku lebih memilih untuk diam atau hanya menuliskan sesuatu
dalam secarik kertas atau hanya dalam benakku saja. Aku tidak pernah berani
untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya akan mempengaruhi
pikiranku sendiri. “ Mengapa orang lebih memilih untuk hidup bersama orang yang
dia cintai ? daripada hidup dengan orang yang mencintainya ?” pertanyaan baru
kembali muncul dalam benakku saat melihat kedua temanku yang sedang dimabuk
asmara. “aku ingin dicintai, apa aku tak pantas untuk dicintai ?” lagi-lagi
muncul pertanyaan seperti itu saat aku melihat semua pasangan kekasih yang
sedang bercanda ria di taman.
Rasanya
aku sudah malas untuk keluar rumah. Semakin keluar rumah, semakin banyak saja
pertanyaan-pertanyaan yang tersimpat di dalam hati ini. Setiap hari aku selalu
pergi ke taman dekat rumahku untuk menikmati sore dan mencari inspirasi tentang
tulisan-tulisanku. Hari ini muncul pertanyaan baru lg dalam benakku “apakah aku
ditakdirkan untuk sendiri ? “, sial… kali ini pertanyaan ini membuat aku
bingung. Kenapa pertanyaan ini muncul tiba-tiba saat aku melihat sosok pria
yang sedang mengambil foto bunga di taman. “siapa dia ?”hanya pertanyaan itu
yang muncul setelah aku memperhatikan pria dengan tinggi 160 cm, dan berkulit
putih itu.” Astaga…. Mengapa ?? apa ini ??” kembali ada Tanya dalam hati ini
tentang perasaan ku saat ini.
Siang
berganti malam, aku pun pulang ke rumah dengan seribu Tanya baru dalam benakku,
“siapa dia ?” ,“sedang apa dia disana ?”, “mengapa aku merasa ada yang aneh
saat melihat dia?”. Astaga… ada apa dengan diriku. Aku kembali membuka
leptopku, dan meneruskan tulisan-tulisanku. Entah mengapa tiba-tiba aku menulis
kata “CINTA”. Astaga….. “apa aku jatuh cinta ??”pertanyaan teraneh yang pernah
terbayang dalam benakku. Astaga…. Akhirnya semakin banyak saja pertanyaan ini
muncul dalam benakku…..
Jumat, 23 November 2012
Diary Raya ( terimakasih cinta )
Rasa penat dalam menjalani aktifitas ku sebagai seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta, rasanya terbayar sudah dengan perjalanan ku hari ini. Kami seluruh mahasiswa memutuskan untuk pergi ke suatu daerah melepaskan penat sekaligus mengadakan suatu kegiatan. Saat aku memasuki bus yang akan membawa kami ke tempat tujuan disebelahku duduk sosok pria yang sangat aku cintai.Ryan, dia adalah sosok pria yang slama ini selalu mengisi ruang dihatiku. Selama perjalanan kami terus bercanda, dan membicarakan apapun yang ada di pikiran kami berdua. Rasanya ingin ku hentikan waktu agar aku bisa terus bersamanya seperti ini. Ya karena memang kesibukannya yang membuat kami jarang bertemu seperti biasanya. Tidak terasa, ternyata kami telah sampai di tempat tujuan kami. Huh !! aku menyesal mengapa rasanya begitu cepat kami sampai.
Karena aku dan Fina adalah koordinator dalam kegiatan ini, maka aku dan Ryan harus berpisah sejenak. Setelah itu, kamipun menyantap makan siang bersama. Dan akhirnya aku dan Ryan dapat menikmati makan siang kami berdua. Rasanya seperti mimpi, bisa duduk disampingnya dan melihat senyumnya lagi. Kami mengadakan suatu kegiatan, dan selama kegiatan itu kami terus bersama. Tertawa, bahkan saling meledek sudah menjadi kebiasaan kami berdua. Rindu... aku rindu saat saat ini, karena aku tau mungkin kita akan jarang untuk bercanda dan menghabiskan waktu berdua. Rasa lelah atau apapun tidak terasa saat bersamamu.
Acara kegiatan kami sudah usai. Kami semua kembali ke bus untuk pulang ke daerah kami kembali. Kembali sosok Ryan duduk disampingku. AC mobil bus yang sangat kencang,membuatku merasa kedinginan. Ryan yang melihatku kedinginan membuka kemejanya lalu menyelimuti tubuhku dengan kemejanya itu. Aku tau diapun kedinginan, tapi dia rela untuk melepaskan kemejanya hanya karena tak ingin melihatku kedinginan. Betapa lelahnya aku, hingga aku tertidur di pundak Ryan. Rasanya nyaman dan hangat berada di peluknya saat itu. Lagi dan lagi pikiranku kembali mengharapkan waktu terhenti disini. Saat aku ada disisinya, saat aku ada dipeluknya yang sangat ku rindukan.
Terlelap ku dalam tidurku, hingga tak sadar kami sudah sampai ke tujuan, tepatnya kampus kami. Ryanpun membangunkan aku yang tertidur pulas di pundaknya. Saat kami sampai, aku mengembalikan kemejanya itu. Tapi, lagi lagi dia rela untuk memberikan jaketnya untukku agar aku tidak kedinginan malam itu. Rasanya aku bahagia memiliki dia disampingku. Sangat sangat bahagia bersamamu. Terimakasih Ryan......
Langganan:
Komentar (Atom)
